Posted by: Erick | 17 June 2008

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Para istri atau kaum wanita adalah
manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada
laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu
kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar.
Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga
ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik.
Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia,
lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri
adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan
sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat
berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh
para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai
visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan
bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia.
Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan
daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas
menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah
untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti
bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan
benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan
benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak
kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi
kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi
dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut
kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada
kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat.
Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena
keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam
masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan
adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh
yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan
dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa
tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki.
Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita
dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk
itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari
sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin
selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar.
Karena itu Allah memerintahkan para suami secara
khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut:
Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri
itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19.
Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang
suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan
yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi
perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa
sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang
badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya.
Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada
binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada
manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang
masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi
menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis
adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana
minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang
mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan
hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam
hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa
yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita
adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat
bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para
istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami
merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau
menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama
sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang
istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa
kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama
sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua
tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena
prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada
dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya.
Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak
bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi
melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan
dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah
seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang
lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam
menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka
yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para
istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi
perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus
terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya
ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan
lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya.
Atau ia tidak mau berterus terang mengenai
penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa
saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh
sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri
yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup
ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang
mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi
bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan
alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di
saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan
tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan.
Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah:
arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami
suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya.
Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh
ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah
benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap
orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits
Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada
seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak).
Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang
bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena
kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak
hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih
dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah
menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak
para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup
hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang
cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh
suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan
karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al
Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh
dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh
keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para
pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan
tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri
serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang
selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti
penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu
tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari
sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa?
Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber
kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya
karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang
tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal
pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu
dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang
menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang
pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka
suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup
sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad,
melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang
matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan
kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni
a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal
artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak
produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup
karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali
membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para
istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas.
Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah
melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah
tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang
suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri
melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami.
Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan
seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini
menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas
jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang
ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan
Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat
sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama
dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main
di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek
pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah
pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat
tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai
pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para
istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa
benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih
bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah
contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa
adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang
suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat
mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami
hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya
merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik
sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan
penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia
sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada
pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya
menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami
pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah
yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara
mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak
masalah kecil menjadi besar hanya karena
miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah
sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak
pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah.
Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan.
Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu
mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa
kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu
berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang
selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu
suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha
indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian
bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri
bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa
sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami
tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan
bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi
para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin
pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa
seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan
dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak
enak. Allahu a’lam

Sumber: dakwatuna.com


Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories